Kebiasaan buruk yang mendarah daging

Kebetulan saya tinggal di perkampungan dengan dominasi masyarakat yang memgang paham hedonis, mungkin jika secara kasar gambarannya adalah “semakin miskin maka semakin tidak ada harganya”. Menyedihkan memang, tapi itulah yang terjadi. Namun, bukanlah soal itu yang akan bahas mungkin akan saya bahasa kelak. Yang akan saya bahas kali ini adalah soal kebiasaan buruk yang mendarah daging.

Kebetulan tempat tinggal saya terdiri dari sebuah halaman dengan keun kecil yang lumayan bisa dimanfaatkan oleh babeh & mama saya untuk bercocok tanam tanaman-tanaman obat/jamu seperti samiloto, kuning besar, jahe dan lainnya. Selanjutnya dibagian belakang terdapat ruang kecil seperti gang yang saya manfaatkan untuk dijadikan kandang ayam.

Lalu di mana masalahnya, sebelumnya kisah ini bukanlah cerita yang diniatkan untuk menjatuhkan seseorang atau kelompok, cerita ini hanyalah sebuah cerita yang saya share dan semoga bisa menjadi bahan renungan kita. Halaman & kebun yang sebelumnya sudah saya ceritakan terkadang ada tangan-tangan jahil seperti tanaman-tanaman yang sering suka diminta tanpa sepengetahuan dan adapula kiriman sampah bahkan dengan ukuran yang tak tanggung sekantung keresek besar.

Selanjutnya, kita ke belakang rumah tempat saya memelihara ayam apa masalahnya? Miris, setiap hari saya selalu menemukan botol, gelas pelastik dan bungkus makanan yang sering dibuang oleh anak-anak yang tinggal di belakang rumah. Ingin sekali saya menegur anak-anak itu, namun saya rasa percuma. Loh kenapa kok udah pesimis? Saya bilang percuma kerna kebiasaan inipun dilakukan oleh orang-orang dewasanya jua yang saya ndak tahu apakah pelakunya masih orangtuanya atau siapa, di mana saya sering melihat sampah dalam jumlah cukup besar di kandang ayam saya, payung rusak, sayur-syuran busuk, pelastik, karpet bahkan obat-obatan pun yang barusan saya bersihkan allohul musta’an…

Sekali lagi, cerita ini bukanlah suatu penghakiman ini hanyalah keluhan saya dan keluarga yang merasa terdzalimi dan terjadi sudah bertahun-tahun. Dan smoga bisa menjadi bahan renungan kita bersama bahwa sungguh anak-anak adalah mesin duplikat terbaik apa yang anda lakukan tentunya akan tercopy dan tersimpan pula di mermori anak-anak sekitar anda.

Advertisements
This entry was posted in Perjalanan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s