Gambaran Bid’ah

Kala itu di suatu kampung, terjadi kekeringan kerana kemarau yang berkepanjangan hingga tak ada satupun saluran air yang mengalir. Namun di tempat itu, terdapat satu-satunya sumber mata air yang hanya saja air tersebut keruh dan kotor. Hujan tak kunjung turun sehingga kemaraupun terjadi sekian lama, hingga akhirnya mereka meminum air keruh dan kotor tersebut secara turun-temurun.

Keseringan meminum air kotor, lama-lama pengecap rasa merekapun berubah kerana keterbiasaan mereka meminum air tersebut. Hingga akhirnya, datanglah seseorang dengan membawa sebotol air yang sangat jernih dan diberikanlah air tersebut kepada salahsatu tokoh kampung tersebut. Tatkala sesepuh kampung tersebut meminum air jernih itu, diapun berkomentar “Sungguh kami lebih mencintai air keruh yang sudah kita minum secara turun-temurun timbang air bersih ini”.

Kira-kira seperti itulah ketika kita mambahas bid’ah, terutama dengan orang/pelaku  yang lebih tua bahkan jauh lebih tua dari kita. Lalu apakah mereka akan seperti itu terus? Hanya Alloh yang tahu dan semoga kita istiqomah dalam menegakkan ajaran Rasul.

Advertisements
This entry was posted in Kisah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s